Monday, January 26, 2026

The Wellington - Fading Out EP, Guerilla Records 2026 (Review)

 













Butuh waktu agak lama untuk saya benar-benar merasa klik dengan The Wellington. Sejak pertama kali saya mendengarkan split single mereka "Maydear/Someone Knock On My Door" dengan Sharesprings yang luar biasa bagus nya di rilis Heyho records (long time ago) jujur saya tak pernah menaruh atensi lebih terhadap mereka. Mungkin itu adalah salah satu hal paling bodoh yang pernah saya lakukan, saya menyesali nya sampai sekarang dan berhutang maaf pada mereka. Namun beberapa tahun kebelakang saya mulai tersadar dan mendengarkan "Unlover" secara utuh dan mendalam. Sejak saat itu saya enggan menoleh balik, saya mulai rutin mengikuti perkembangan mereka dan mendengarkan semua materi mereka yang belum pernah saya dengarkan sebelumnya. Agak telat memang karena The Wellington adalah salah satu band yang sudah lama malang melintang di scene lokal dan saya baru mulai menaruh perhatian lebih pada mereka beberapa tahun terakhir; shame me!. Tapi saya merasa senang, pada akhirnya saya menemukan perasaan dan antusiasme yang membuat saya sadar akan alasan kenapa saya mencintai semua hal ini sampai sekarang dan selamanya.


"Fading Out" seperti menampar saya dan semua kebodohan yang saya lakukan di masa lalu karena tidak terlalu peduli pada musik mereka. 4 track pada EP ini benar-benar mebuat saya mengerenyitkan dahi dan bergumam dalam hati menyesali semua perbuatan saya tersebut. Dengan menempatkan "Damai" sebagai nomor pembuka seharusnya sudah cukup menyadarkan siapapun yang mendengarkan EP ini mengerti, bahwa menulis lirik dalam Bahasa itu cukup sulit, apalagi untuk di eksekusi sebaik yang The Wellington lakukan di nomor ini. Mereka sukses membuat saya merasa "Damai" di tengah semua kebanalan realita hidup akhir-akhir ini. 

"Endless Time" cukup sentimentil, dengan balutan aransemen musik jangly, membuat siapapun yang mendengarnya sadar bahwa memang ada beberapa hal yang layak untuk selalu kamu syukuri apapun keadaan nya sebelum terlambat dan kita semua kehabisan waktu. "Fading Out" mungkin menjadi track favorit saya di EP ini, semua aspek pada lagu ini benar-benar sempurna, dengan latar vokal yang perempuan yang membuat nya semakin paripurna sebagai sebuah lagu. "Painted Room" buat saya adalah lagu paling personal di EP ini secara lirik, entah di tulis setelah atau sebelum kepergian bassist mereka Kocu tapi satu hal yang pasti lagu ini cukup jelas menggambarkan bahwa kehilangan memang terasa menyakitkan dan kita semua hanya selalu berharap pasca kehilangan kenangan nya akan selalu ada di dalam hidup kita sampai kapan pun.


Secara keseluruhan album ini sangat layak mendapatkan perhatian lebih dari kamu, teman kamu, dan orang banyak. Selamat The Wellington atas di rilis EP terbarunya, saya mulai optimis bahwa tahun 2026 memang tahun yang menyenangkan untuk di lalui karena banyak rilisan band-band lokal yang bagus nya luar biasa. Meski kita semua sadar bahwa realitas nya 2026 adalah tahun penuh carut marut dan terbrengsek yang pernah ada. Tapi, hal seperti ini lah yang membuat kita semua merasa lebih hidup? Di samping semua hal-hal buruk akan selalu ada hal baik yang datang bersamaan, dan "Fading Out" adalah salah satu dari banyak hal tersebut.


RIP KOCU, thank you for the music! 💙



listen here: The Wellington - Fading Out EP





Monday, January 12, 2026

DIfferent Drum: #2 Interview with (Texas Two)

 


Pasca debut gig di Presente 3, serta dirilis nya debut album penuh mereka “Chronovisor” via Untune Records, Texas Two adalah buah bibir setidaknya di ruang lingkup kecil bagi mereka yang memang into sama musik seperti yang di mainkan Texas Two; shortcut noisepop, tanpa tendensi gain popularitas and being asshole.


kali ini saya berkesempatan mewawancarai Arga dan menanyakan beberapa hal yang gak terlalu penting, karena gak ada salah nya juga. Kamu bebas melakukan apapun, kamu bisa jadi apapun, make your own journalism, make your own fanzine, blog, or whatever. do it with your friends! 


enjoy the interview!


Halo, apa kabar Arga? Bogor hujan terus ya pasti? hahaha.


Kabar baik alhamdulillah. Haha iyaa ni harus pake jaket tiap mau keluar, dingin soalnya haha.




Anyway, selamat atas di rilisnya album debut Texas Two “Chronovisor”. Ceritakan dong gimana proses pembuatan album tersebut sampai akhirnya bisa di rilis via Untune Records?


Wah makasih sebelum nya. Prosesnya masih sama kaya yang Unexpressed Feelings EP, masih dikamar yang sama masih pake alat yang sama. Mungkin yang berbeda kali ini vokalnya diisi sama temen di bogor Elvina karna Anya sibuk kuliah dan kerjaan, jadi Anya cuman isi 2 track aja. Dan aku coba cover satu lagu Sex Sux - Ceilings, makasih mas Deni dan kak Melly udah ngijinin Texas Two buat cover hehe. Oh iya, sama ada track yang vokal nya diisi oleh Rega (Aggi) yang masih sama metode rekam nya melalui voice note handphone haha dan katanya dia rekamnya di kamar mandi biar ga bocor suara dari luar hahaha. Tapi makasih banyak Rega udah mau bantu isi vokal!

Sehabis materi pada beres, aku langsung lempar ke mas Untung selaku CEO Untune Records hahaha, dan bilang pengen rilis di tanggal 24 Desember.


Apa pemicu kamu untuk memulai proyekan Texas Two ini? sementara yang saya tau kamu sudah memiliki sebuah group indierock yang juga lagi di “Happening” di scene hari ini, Telly Blue.


Pemicu awalnya iseng aja bikin bikin lirik yang mostly kayanya ga bakal cocok di pake di Telly Blue jadi coba iseng record sendiri dikamar dan kebetulan waktu itu lagi suka suka nya Indiepop dan ya, jadi kaya sekarang deh hehe



Apakah Texas Two hanya menjadi pelarian kamu dari rutinitas bersama Telly Blue? 


Mungkin ya, selagi gaada rutinitas di Telly Blue aku larinya ke Texas Two haha.



Kenapa memilih memainkan musik indiepop (or whatever yang orang sebut)? Kenapa gak milih musik Jazz? padahal bisa bikin kamu lebih cepat kaya raya hahaha.


Kenapa ya? hahahaha mungkin udah kelewat suka indiepop kali ya, kalo main musik Jazz juga saya gak jago-jago banget main instrumen musik, dan mungkin ada sense of belonging aja kayanya makanya mainin jenis musik kaya gini.


Saya ingat kita pernah ngobrol panjang lebar, kemudian kamu meminta saya untuk memberikan referensi band-band yang memainkan jenis musik yang serupa dengan Texas Two. Jujur saya cukup kaget, kamu bisa mengimplementasikan nya pada Chronovisor. Menurut saya kamu cukup sukses mengambil inspirasi dari band-band seperti The Vaselines, Rosehips, Shop Assistants, bahkan Sex Sux dan menjadikan output nya seperti Chronovisor. bisa jelasin gimana proses kamu menulis semua musik di album tersebut?


Hahaha, makasih mas! ya waktu itu aku sempet minta referensi band band yang mirip Texas Two sambil ngejar kereta terakhir ke Bogor sehabis nonton “Tribute To The Cat’s Miaow” di Psychocandy dan akhirnya kita ngobrol banyak di kereta sebelum terpisah di stasiun Depok hahaha. Penulisan nya kebanyakan dapet ide waktu dijalan naik motor, maksain berenti kepinggir buat rekam nada dan lirik yang masih ngasal di voice note, sampe rumah pulang kerja tanpa ganti pakaian langsung aku record semua nya hahaha.


Bogor terkenal sebagai kota indierock, beberapa media menyebutnya seperti itu. apakah kamu setuju dengan semua labeling tersebut? 


Sebenernya banyak genre selain Indierock di Bogor. Masalah setuju atau tidak setuju Bogor di labeli “Kota Indierock” yaa aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


Hahaha, emang media musik kadang suka berlebihan sih. Belum lama kamu melakukan debut show dan main sama Aggi serta The Silent Love, gimana perasaan kamu? saya bisa bilang debut show Texas Two cukup memuaskan setidaknya untuk saya.


Nervous banget hahaha mungkin yang nonton pada saat itu juga bisa ngeliat bertapa neveous nya kami saat itu, untungnya orang orang yang nonton pada asik jadi kami kebawa enjoy juga hahaha. Btw thanks mas Tiok dan Disanorak yang sudah ngajak kami main buat yang pertama kali nya!


Gimana kamu melihat scene lokal indiepop hari ini? 


Cukup seru, banyak band-band baru yang bagus, terus bisa ketemu orang orang baru yang menyenangkan dan berbagi value spirit yang sama. 



Saya dengar juga sudah ada beberapa label dari luar Indonesia yang menawarkan diri untuk merilis album Chronovisor? apakah benar?


Yupp, ada Galaxy Train dari Jepang yang bakal ngerilisin kaset di bulan Februari nanti. Dan ada indiepop fans dari NY yang nawarin buat ngebikinin CD yang nanti nya akan dia titipkan di beberapa record store lokal disana, mungkin di bulan Februari juga, semoga.



Sex Sux bagi saya punya peran penting di scene lokal, kamu juga pasti setuju akan hal itu. seberapa penting nya keberadaan mereka buat kamu? saya tahu ini pertanyaan klise, karena mereka sudah lama tidak aktif.


Yup setuju, entah kenapa pas pertama kali denger Sex Sux langsung suka dan karna Sex Sux juga jadi pengen bikin band indiepop kaya mereka. Sex Sux forever! Hahahaha


Siapa current band yang bisa kamu rekomendasikan buat orang-orang yang membaca Interview ini? meski saya yakin, gak ada yang mau baca atau peduli sama interview dan rekomendasi ini hahaha.


hahahahahaha ngehe. mungkin Buba and The Shop Assistants - Something To Do sama Henry's Dress - Definitely Nothing 


Hahaha ngawur! itu sih sudah pada meninggal semua band nya, tapi gapapa saya tau kamu tergila-gila sama mereka. setelah rilis album debut Texas Two, apa rencana kamu selanjutnya bersama Texas Two? 


Paling bakal ngeberesin materi buat beberapa kompilasi atau manggung lagi mungkin. oh ya, gig terdekat Texas Two tanggal 17 Januari di Psychocandy acara release party nya Candy Kisses. come and hangout! ada band lain yang keren-keren juga bakal main.


Thanks Arga sudah mau buang-buang waktu untuk di interview, hahaha. All the best buat Telly Blue dan Texas Two nya. Dan karena sudah mulai masuk musim hujan, semoga sehat terus buat ya. amin!


Thanks juga mas sudah menginterview saya hahaha, sehat-sehat buat kita semua. amin!


please give a support for them, they are so great. buy their records digitally from; https://untunerecs.bandcamp.com/album/chronovisor or you can buy a physical release of Chronovisor via Untune Records.





Saturday, January 3, 2026

Different Drum: #1 Interview with (The Interpretation Cultures)

 














Ini adalah sesi interview pertama yang saya lakukan untuk blog ini. Kali ini saya melakukan interview bersama The Interpretation Cultures, salah satu local act yang cukup menyita perhatian saya pasca kemunculan mereka. Harapan nya series interview ini akan terus berlanjut seterusnya, itupun kalau saya tidak terlalu malas untuk melakukan nya, semoga. Interview ini juga semata-mata sebagai ikhwal saya untuk terus menjalin hubungan serta komunikasi dengan beberapa band, label, maupun scenester di scene lokal. Jadi gak menutup kemungkinan, band kamu, label kamu, atau kamu sendiri bisa juga saya minta untuk melakukan interview. 


So, enjoy the interview........ 


Anyway selamat atas perilisan album debut kalian yang luar biasa bagus nya. Bisa di ceritakan gimana awal mula kalian memutuskan untuk memulai The Interpretation? 


Thanks a lot atas apresiasi.

Sebenarnya kami lupa tanggal dan bulan kami terbentuk, kita dikumpulkan di sekolah sma di tahun 2012. kami sering nongkrong, bolos pelajaran sekolah untuk bisa ke studio dan jamming menyanyikan lagu yang kami suka. singkat cerita kami sibuk dengan urusan masing2 dan terkumpul kembali di studio tahun 2023. kami sempat merekam materi kami seadanya dirumah masing2 di tahun 2020. judulnya Biru. materi kami waktu sma.


Koreksi kalau saya salah, sepengetahuan saya ini adalah band one man project? apa benar? atau memang dari awal sudah di bentuk as a group? saya cukup penasaran soal ini, sungguh. haha


kami terbentuk as a group. saya sendiri (Fadhli) hobi dan senang dengan musik dan sub-kulturnya, mulanya saya iseng mengcover lagu dari Anselmus (My Life is Better with indiepop) menurut saya liriknya mewakili anak indies all around the world hehe-^, sound yang catchy dan simple. saya dikontak mas eko (shiny happy records/chaoticpop records) waktu itu, dia nawarin "mau ngga dirilisin di label saya?" chaoticpop records waktu itu. Nah... saya kontaklah gitaris saya (Anaang) "nang, buat pattern gitar yang singkat dan padat dong". saya pun terlintas untuk membuat lirik yang singkat dan jujur. waktu itu sepulang kerja terputar di radio lagu archie, marry me by Alvvays. dan teringat "lucu jg kalau judul lagunya nama orang" saya pun teringat kalau nama voc alvvays itu Molly, jadilah Molly pop song yang dirilis chaotic waktu itu mengikuti 2 cover dari saya (fadhli) yang direkam melalui irig di hp.


Satu hal yang cukup membuat saya terkejut, fakta bahwa ada band dan kolektif seperti yang kalian jalankan di Makassar sungguh membuat saya senang bukan kepalang. bagaimana itu semua dimulai? 


kolektif yang kami buat itu berawal dari teman ke teman, punya teman mempunyai bakat keren, kami pun support. kami terinspirasi dari kultur dan movement DIY indie/garage 60an-90an, layaknya Amelia Fletcher, Calvin Johnson, dan Stephin Merrit. (long life to them)


Seperti apa kalian menggambarkan keadaan scene di kota kalian hari ini? terutama di ruang lingkup yang kalian sendiri berada dan terlibat di dalam nya?


Menurut kami scene di kota makassar itu monoton. kami besar dengan kultur hardcore/punk dengan budaya kami (Siri' na Pacce) harga diri dan empati sudah mengalir dalam keseharian. tetapi kami bosan dengan punk yg monoton, bukanya punk itu ideologi yg menyaratakan semua golongan?
ada 1 orang yang kami percaya yang memegang prinsip DIY yang sebenarnya, Fami Redwan (The Hotdogs). menurut kami dia sosok yang jujur dalam prinsip DIY ini. dia berkembang dengan musiknya, dan jujur dalam berkarya.


There's a Light that I Will Never Have, apakah judul album ini terinspirasi dari There's is A Light That Never Goes Out milik The Smiths? Saya cuma sekedar asal bicara aja sih, tapi mungkin ada benar nya? 


Ya kami sarkas dengan gen tiktok yang memakai sound the smiths, kami tau kalau itu salah satu soundtrack dari film 500 days... tapi kenapa harus the smiths? banyak ost di film itu yang keren, haha.



Berapa lama proses merekam semua materi lagu di album ini? 14 track itu cukup banyak sih untuk sebuah album. bagaimana proses song writing nya? apakah masih menggunakan metode klasik seperti jamming? atau di rekam perbagian lalu kemudian di satukan sebagai sebuah lagu?


Kami merekamnya dari bulan february 2025, awalnya saya (fadhli) punya banyak draft record humming sambil gitar di hp, dan coba untuk mendengarkan ke teman TIC yang lain, kami jamming mencari pattern yang cocok, dan direkam melalui hp. lalu saya (fadhli) sendiri yang merekam trackingnya satu persatu.



Intro di album ini mengingatkan saya dengan beberapa materi pada musik Ride, menurut saya pilihan yang sangat tepat menaruh lagu "Even We Tried but Couldn't" di track pertama, itu works banget. apakah Ride cukup punya pengaruh terhadap arah referensi musik kalian? 


Track 1 itu merupakan gabungan dari British invasion sounds yang kami suka. menurut kami kita harus buat sound yang angsty dan kool. kami semua membayangkan kalau di lagu ini Tim Burgess yang memainkan tamborine, pattern gitar Johnny marr dan John Squire, bassline Andy Bell, dan keys dari Rob Collins (Charlatans). 



That's could be dangerous band, really! hahaha. Saya juga mengikuti kalian, dan menyadari bahwa kalian adalah salah satu band yang rajin merilis sesuatu, baik itu single, EP, atau ikut serta dalam kompilasi yang di rilis label lain atau kalian rilis sendiri. Apa pendapat kalian terhadap beberapa band yang membuat sebuah materi album, namun tak punya keberanian untuk merilis nya secara mandiri? bahkan ada yang berharap agar bisa dirilis di label-label fancy yang mengaku indie, padahal ga sama sekali.


Menurut kami buat apa menunggu? dengan harapan panggung besar, menjadi popstar? menurut kami sangat bodoh, kamu berhak dengan karyamu! entah kamu mau rilis di hari jumat, mengikuti waktu yang dibuat oleh media atau record label itu semua omong kosong. rilis lah sesuka hatimu, didengar atau tidak terdengar itu urusan lain. 


Kayanya saya udah terlalu banyak bertanya, Haris Franky bukan sok banyak tanya ya hahaha. Apa rencana pendek kalian ke depan, setelah perilisan album ini? 


Rencana pendek, palingan buat rilisan CD-r dan Cassette. kebetulan kami di kontak dengan mas Untung (Untune Recs) untuk collab rilisan cassette, beberapa tracknya dipilih langsung sama Mas Untung sendiri.


Mantap! semoga semua lancar. pertanyaan penutup, bisa rekomendasikan ke kami 5 band baik lokal atau luar yang patut orang lain dengarkan? kalo 5 terlalu banyak, 3 juga boleh, bebas saja sih ini. hahaha


Lokal : - The Hotdogs (Makassar)
                 - Taman Impian (Makassar)
                 - permen karet (Makassar)
Luar : Menurut kami kalau luar lebih ke kompilasi sih, karna kita besar dengan kompilasi yang ajaib.
 - The Subway Organization Compilation
- The Kids at the club; an indiepop compilation
- All Sarah records compilation.


This quite fun interview. Terima kasih udah luangin waktu dan mau melakukan interview ini. all the best 


Thanks, with love 🍒
The Interpretation Cultures!













Friday, January 2, 2026

indiepop still alives, and will always! Album Reviews (2026)

2026 baru berjalan 2 hari, tapi sudah ada 4 kandidat best indiepop record of the year dalam kepala saya. Agak terburu-buru? mungkin saja. Tapi buat mereka yang dig it "what true meaning pop is" pasti akan setuju sama ucapan saya tadi. Saya gak akan pernah membiarkan pendapat saya yang akan selalu subjektif terhadap apa yang saya cintai, tak pernah tersampaikan. Sekalipun tanpa pembaca satupun, saya akan tetap menulis opini saya terlebih terhadap sesuatu yang saya sebut antusiasme. Kamu gak akan pernah mampu membayar semua antusiasme dalam hal apapun dengan materi, disini dalam konteks indiepop. 


1.  The Interpretation Cultures  - There's a Light that I Will Never Have 


 

Debut LP dari Makassar pop darlings, 14 track indiepop straight to yer heart yang di rekam dan di tulis dengan baik. Saya cukup terkejut dengan apa yang mereka lakukan di kota asal mereka, sesuatu yang cukup membuat saya mengerenyitkan dahi karena kepalang senang bukan main ada band serta kolektif seperti yang The Interpretation Cult lakukan di Makassar. Band ini cukup rajin merilis sesuatu mulai dari Single, EP, sampai Kompilasi pun semua dilibas. Hal yang sudah seharusnya banyak band lakukan hari ini tanpa perlu menunggu record label datang untuk menjilat karya kalian bak lintah. 

2. The Fabulous Friend - A Little Spring of Gentle Pop





















Dari awal saya mengenal Eko, saya adalah salah satu penggemar militan label besutan nya yang satu ini. Eko selalu menemukan gems di setiap rilisan yang ia rilis bersama Shiny Happy. A Little Spring of Gentle Spring adalah bukti bagaimana ia mengkurasi label nya dengan sangat amat baik, selalu mengutamakan pilihan dari hati nya dalam merilis sebuah band. Eko paham betul dengan apa yang ia gagas dan jalani, The Fabulous Friend sudah jelas jadi best pop act in 2026 buat saya. Kalau kamu akrab sama rilisan-rilisan Labrador, saya pastikan kamu menemukan cara membayangkan berjalan-jalan menuju pengalaman pop heaven dengan bahagia.





3. Strawberry Punks Vol. 6 - Disanorak Compilation























Seri kompilasi paling progressif yang pernah hadir dari scene indiepop lokal kembali menjalankan tradisi tahunan nya. Disanorak merilis Strawberry Punks Vol. 6, di tahun 2026. 
Kamu harus nya sadar, tanpa kompilasi ini mungkin kamu gak harus heran kenapa Grrrl Gang bisa make it big hari ini. Saya menemukan band-band yang sebelum nya gak saya discover lewat kompilasi ini. Seperti band bernama Egofatum yang muncul di Vol. 3 dan Vol. 5 yang langsung bikin saya jatuh hati, apalagi setelah tau bahwa seorang Punks bisa menulis musik pop sesuai dengan konotasi yang baik. Kalo kamu sudah mendengar Vol. 6, arti nya kamu paham bahwa Tiok akan selalu menjaga hal-hal seperti itu di setiap volume kompilasi ini, mungkin sampai volume 100 Strawberry Punks. semoga! Disanorak forever.





4. Candy Kisses - Truth We Avoided
























Alip pernah ngobrol sama saya via DM, suatu hari. Katanya ada dua band baru yang muncul dari kolektif Forfun yang ia jalani bersama teman-teman nya di Depok. satu noisepop dan satu lagi kata nya pure twee, ia menggaransi bahwa saya akan suka katanya. Saya hanya menebak-nebak, mungkin Candy Kisses adalah salah satu dari dua band yang ia maksud. 

Kalau memang benar, berarti Alip tak membual perihal garansi yang ia berikan pada saya tempo hari. Truth We Avoided is the perfect pop, reminds me of Go Sailor. love you Alip dkk.


4 rilisan yang bagus nya minta ampun, dalam 1 hari agak berlebihan sebetulnya. Tapi buat maniak pop jelas salah satu hari paling menyenangkan. Satu hal yang pasti, 2026 masih panjang. Saya yakin akan ada banyak rilisan pop dari scene lokal yang sama bagus nya bahkan lebih bagus, we'll see....

Happy New Year!!!! Up the punks..... 

Sunday, December 28, 2025

GIG REPORT

Aggi/Neshband/TexasTwo/Echan.snn 


gig Presente 3 dari Disanorak/Heavenpunks kembali di helat yang juga sekaligus sebagai perayaan showcase Aggi pasca rilis EP terbaru mereka dengan band pendukung, Neshband, Texas Two dan Echan.

Acara berlangsung di Studio Pangpol51, sebuah venue yang buat saya pribadi adalah sebaik-baik nya venue acara musik. Tidak besar pun tidak terlalu kecil juga, tempat paling ideal buat gig indiepop yang di organize secara mandiri. Saya datang sekitar jam 7 malam bersama seorang teman, karena kami kadung terlalu cepat tiba di venue maka kami melipir ke warung kopi terdekat untuk bersantai sejenak, dan bertemu teman-teman yang cukup familiar, sebab acara di mulai pukul 8 malam. 

Echan menjadi penampil pertama malam itu, sejujurnya saya pikir penampilan Echan malam itu hanya selingan. Ia bernyanyi beberapa lagu top 40 macam Sally Cinnamon nya The Stone Roses sampai Lou Reed dengan versi bahasa indonesia, penuh humor membuat audience yang menyaksikan ia bermain tertawa. Menyenangkan, salah satu hal yang gak akan pernah kalian temui di gig super serius dengan gelontoran sponsor kapitalis yang marak hari ini.

Neshband jadi band kedua malam itu, memainkan beberapa set hit mereka. indiepop dengan khayalan naivety khas teenager yang lagu jatuh cinta sama crush nya. Saya tau bagaimana Ganesh menulis pop, buat saya ia salah satu orang yang mampu menulis musik pop yang baik entah itu bersama Neshband atau The Silent Love. we love Ganesh forever. amr

Salah satu alasan saya hadir malam itu adalah karena ingin menyaksikan gig pertama Texas Two, bersyukur saya bisa datang disana. Buat sebagian orang yang menyaksikan mereka malam itu pasti setuju bahwa Texas Two adalah promising pop group pasca Sex Sux  dengan style dan attitude yang serupa. short fast noisepop minimalis dengan durasi lagu yang mayoritas hanya 1 menit. Saya sempat mengira kalau mereka bakal memakai set drum via digital dari laptop or sejenis nya. Tapi dugaan saya salah ternyata mereka bermain dengan set drum ala Laura McPhail. they're blew me away. Musik mereka penuh noise, ketukan drum yang bahkan terdengar lebih baik dari Ikmal Tobing, penuh rasa canggung, twee as fuck. Saya gak heran kalau Tiok bilang ke Ando dan saya "gitu dong...." dan melabeli mereka Untune popstar. Malam itu sekali lagi saya percaya bahwa indiepop poseurs di luaran sana banyak nya bukan main, claim sana sini, trying to be famous, etc. namun di satu sisi masih ada band seperti Texas Two dengan antusiasme serupa dengan apa yang saya yakini tetap ada bagaimana pun keadaan scene hari ini. semoga akan ada gig selanjutnya dari mereka di kemudian hari.


Aggi menutup malam itu dengan set semua diskografi mereka di mainkan, beserta satu lagu cover dari early My Bloody Valentine "Lovelee Sweet Darlene". Entah sudah berapa kali saya menyaksikan Aggi secara langsung, perasaan saya masih tetap sama pada mereka sejak pertama kali. Seperti tagline mereka di Heavenly Option; "Aggi is the best pop group, after Sharesprings". Saya mengamini itu sejak saat itu.