Ini adalah sesi interview pertama yang saya lakukan untuk blog ini. Kali ini saya melakukan interview bersama The Interpretation Cultures, salah satu local act yang cukup menyita perhatian saya pasca kemunculan mereka. Harapan nya series interview ini akan terus berlanjut seterusnya, itupun kalau saya tidak terlalu malas untuk melakukan nya, semoga. Interview ini juga semata-mata sebagai ikhwal saya untuk terus menjalin hubungan serta komunikasi dengan beberapa band, label, maupun scenester di scene lokal. Jadi gak menutup kemungkinan, band kamu, label kamu, atau kamu sendiri bisa juga saya minta untuk melakukan interview.
So, enjoy the interview........
Anyway selamat atas perilisan album debut kalian yang luar biasa bagus nya. Bisa di ceritakan gimana awal mula kalian memutuskan untuk memulai The Interpretation?
Thanks a lot atas apresiasi.
Sebenarnya kami lupa tanggal dan bulan kami terbentuk, kita dikumpulkan di sekolah sma di tahun 2012. kami sering nongkrong, bolos pelajaran sekolah untuk bisa ke studio dan jamming menyanyikan lagu yang kami suka. singkat cerita kami sibuk dengan urusan masing2 dan terkumpul kembali di studio tahun 2023. kami sempat merekam materi kami seadanya dirumah masing2 di tahun 2020. judulnya Biru. materi kami waktu sma.
Koreksi kalau saya salah, sepengetahuan saya ini adalah band one man project? apa benar? atau memang dari awal sudah di bentuk as a group? saya cukup penasaran soal ini, sungguh. haha
kami terbentuk as a group. saya sendiri (Fadhli) hobi dan senang dengan musik dan sub-kulturnya, mulanya saya iseng mengcover lagu dari Anselmus (My Life is Better with indiepop) menurut saya liriknya mewakili anak indies all around the world hehe-^, sound yang catchy dan simple. saya dikontak mas eko (shiny happy records/chaoticpop records) waktu itu, dia nawarin "mau ngga dirilisin di label saya?" chaoticpop records waktu itu. Nah... saya kontaklah gitaris saya (Anaang) "nang, buat pattern gitar yang singkat dan padat dong". saya pun terlintas untuk membuat lirik yang singkat dan jujur. waktu itu sepulang kerja terputar di radio lagu archie, marry me by Alvvays. dan teringat "lucu jg kalau judul lagunya nama orang" saya pun teringat kalau nama voc alvvays itu Molly, jadilah Molly pop song yang dirilis chaotic waktu itu mengikuti 2 cover dari saya (fadhli) yang direkam melalui irig di hp.
Satu hal yang cukup membuat saya terkejut, fakta bahwa ada band dan kolektif seperti yang kalian jalankan di Makassar sungguh membuat saya senang bukan kepalang. bagaimana itu semua dimulai?
kolektif yang kami buat itu berawal dari teman ke teman, punya teman mempunyai bakat keren, kami pun support. kami terinspirasi dari kultur dan movement DIY indie/garage 60an-90an, layaknya Amelia Fletcher, Calvin Johnson, dan Stephin Merrit. (long life to them)
Seperti apa kalian menggambarkan keadaan scene di kota kalian hari ini? terutama di ruang lingkup yang kalian sendiri berada dan terlibat di dalam nya?
Menurut kami scene di kota makassar itu monoton. kami besar dengan kultur hardcore/punk dengan budaya kami (Siri' na Pacce) harga diri dan empati sudah mengalir dalam keseharian. tetapi kami bosan dengan punk yg monoton, bukanya punk itu ideologi yg menyaratakan semua golongan?
ada 1 orang yang kami percaya yang memegang prinsip DIY yang sebenarnya, Fami Redwan (The Hotdogs). menurut kami dia sosok yang jujur dalam prinsip DIY ini. dia berkembang dengan musiknya, dan jujur dalam berkarya.
There's a Light that I Will Never Have, apakah judul album ini terinspirasi dari There's is A Light That Never Goes Out milik The Smiths? Saya cuma sekedar asal bicara aja sih, tapi mungkin ada benar nya?
Ya kami sarkas dengan gen tiktok yang memakai sound the smiths, kami tau kalau itu salah satu soundtrack dari film 500 days... tapi kenapa harus the smiths? banyak ost di film itu yang keren, haha.
Berapa lama proses merekam semua materi lagu di album ini? 14 track itu cukup banyak sih untuk sebuah album. bagaimana proses song writing nya? apakah masih menggunakan metode klasik seperti jamming? atau di rekam perbagian lalu kemudian di satukan sebagai sebuah lagu?
Kami merekamnya dari bulan february 2025, awalnya saya (fadhli) punya banyak draft record humming sambil gitar di hp, dan coba untuk mendengarkan ke teman TIC yang lain, kami jamming mencari pattern yang cocok, dan direkam melalui hp. lalu saya (fadhli) sendiri yang merekam trackingnya satu persatu.
Intro di album ini mengingatkan saya dengan beberapa materi pada musik Ride, menurut saya pilihan yang sangat tepat menaruh lagu "Even We Tried but Couldn't" di track pertama, itu works banget. apakah Ride cukup punya pengaruh terhadap arah referensi musik kalian?
Track 1 itu merupakan gabungan dari British invasion sounds yang kami suka. menurut kami kita harus buat sound yang angsty dan kool. kami semua membayangkan kalau di lagu ini Tim Burgess yang memainkan tamborine, pattern gitar Johnny marr dan John Squire, bassline Andy Bell, dan keys dari Rob Collins (Charlatans).
That's could be dangerous band, really! hahaha. Saya juga mengikuti kalian, dan menyadari bahwa kalian adalah salah satu band yang rajin merilis sesuatu, baik itu single, EP, atau ikut serta dalam kompilasi yang di rilis label lain atau kalian rilis sendiri. Apa pendapat kalian terhadap beberapa band yang membuat sebuah materi album, namun tak punya keberanian untuk merilis nya secara mandiri? bahkan ada yang berharap agar bisa dirilis di label-label fancy yang mengaku indie, padahal ga sama sekali.
Menurut kami buat apa menunggu? dengan harapan panggung besar, menjadi popstar? menurut kami sangat bodoh, kamu berhak dengan karyamu! entah kamu mau rilis di hari jumat, mengikuti waktu yang dibuat oleh media atau record label itu semua omong kosong. rilis lah sesuka hatimu, didengar atau tidak terdengar itu urusan lain.
Kayanya saya udah terlalu banyak bertanya, Haris Franky bukan sok banyak tanya ya hahaha. Apa rencana pendek kalian ke depan, setelah perilisan album ini?
Rencana pendek, palingan buat rilisan CD-r dan Cassette. kebetulan kami di kontak dengan mas Untung (Untune Recs) untuk collab rilisan cassette, beberapa tracknya dipilih langsung sama Mas Untung sendiri.
Mantap! semoga semua lancar. pertanyaan penutup, bisa rekomendasikan ke kami 5 band baik lokal atau luar yang patut orang lain dengarkan? kalo 5 terlalu banyak, 3 juga boleh, bebas saja sih ini. hahaha
Lokal : - The Hotdogs (Makassar)
- Taman Impian (Makassar)
- permen karet (Makassar)
Luar : Menurut kami kalau luar lebih ke kompilasi sih, karna kita besar dengan kompilasi yang ajaib.
- The Subway Organization Compilation
- The Kids at the club; an indiepop compilation
- All Sarah records compilation.
This quite fun interview. Terima kasih udah luangin waktu dan mau melakukan interview ini. all the best
Thanks, with love 🍒
The Interpretation Cultures!