Wednesday, April 29, 2026

Interview: The Suncharms

 



The Suncharms kembali dengan album baru setelah jeda 5 tahun dari album terakhir yang mereka rilis. Saya berkesempatan mewawancara Marcus dan berbicara beberapa hal, seperti mengapa butuh waktu yang cukup lama buat The Suncharms merilis debut album penuh mereka, perspektif mereka tentang scene hari ini, dan bagaimana proses pengerjaan album terbaru mereka.



Hello The Suncharms, thanks for letting me make this interview. how are you guys?


We are all very excited to be releasing album 3. We went our separate ways in 1993, so to be back together as a group of friends and being creative is wonderful. It's not often in life you get a second chance, so we are appreciating every moment. 


Can you introduce yourself to readers of this blog? 


I'm Marcus the singer and tambourine rattler. I live in Sheffield. 


Most of people know The Suncharms form since 1991. tell us how it starts and how the scene back then?especially in the UK, where this movement (people always say indie scene) starts.


It started from our bedrooms. Me and Richard (bass player) making compilation tapes as teenagers. Walking everywhere with headphones in, devouring music magazines and seeing bands like McCarthy, That Petrol Emotion, Brilliant Corners in tiny venues in the Sheffield Manchester Leeds. We just said to each other let's form a band. Richard picked up his brothers acoustic guitar which had one  string and I started singing along to these simple songs. It just so happened that Richard started Art College where he met Matt, who had a real guitar and amp. Matt then had friends Chris and John who he'd been in bands with before. We started practicing in my parents garage before plucking up the courage to play our first gigs. Quite early on we played at the leadmill opening for the Cranes. The Sheffield scene was very diverse with punk and synth bands. It was only through the NME / music papers that created a national scene calling it Shoegaze and listening to our 90s tracks we had a lot in common with Ride, Pale Saints ,14 iced Bears. We never knowingly copied anyone.


A memorable gig was when we played with the Television Personalities & The Fat Tulips in Nottingham. Lots of Bowl haircuts Chelsea boots and clothes like the Byrds in 1965. I'm still a massive TVP fan. In 1991 there was still people keeping the Anorak / 60s scene going, which I found myself travelling to all these obscure nights.




Any group who make you think, “okay, we must start a band too”? for example,

like Talulah Gosh they starting the group after  seeing The Pastels gig, are you guys had an inspiration like that?


As a teenager the Pastels, McCarthy, Field Mice, the Byrds, the Buzzcocks all went someway to make me want to form a band. The excitement of getting a Sarah Records single posted to you in a padded envelope.

Running for the last bus and sleeping on train station platforms so you could hear a bands last song (missing your train) It was all part of that excitement of discovering music.

However it was probably The Dead Kennedys when I was sixteen that gave me the spirit to try and do and something different.


I really like your split tapes with indonesian band Mirrorlakes through Shinny Happy records.

how did the project finally came about?


We were approached by Eko who runs shiny happy records who asked if we wanted to do the split tape. We are also on two shiny happy compilation albums.



The Suncharms first album was released in 2021 through Sunday Records,

why did it take so long to finally release your first full-length album since you guys starting the band? 


In 1992 we went our separate ways. There was no big fallout. We had released two EPs and done a John Peel session. No album had been written as the label also folded (Wilde Club Records). We were approached by Slumberland Records just as we were splitting to release a single. A demo tape we was posted but never arrived. (We had chance to put this right with a single Red Dust in 2018 released on Slumberland Records).


In 2016 Cloudberry Records asked us if we would be interested in releasing our 90s EPs on CD. It was 24 years since the band had been in a room together. We met in a pub and brought along press cutting and photos for the booklet that was accompanying the CD. It was at this meeting that we decided to book a rehearsal room. We haven't stopped writing since. The Distant Lights album is all original new tracks written after 2016.


I really like the new album of The Suncharms, how the process of making this record? can you tell to us? 


It usually starts with Matt recording a demo of the track. We then bring all our parts to the track and it usually changes completely from the original idea. It's a very democratic process. This album has strings vintage organs, guitars repaired and played by Matt that he's sourced from Russia. Some from the 60s. We aren't constrained by fashion just add the instruments we like and serve the song, give atmosphere to the lyrics. We've even got a Mellotron on a track.


do you guys make any plan to promote this album? maybe touring around UK?


Not my plans to tour however not ruling out one off gigs.




last question, do you have any suggestion for us bands worth listening to nowdays?


For me you can't go wrong listening to Northern Soul there's always an obscure track that can be your own special find. As for cult bands it'd have to be the West Coast Pop Art Experimental band.



Thanks Marcus for your time doing this interview. Best of luck for the future for you and The Suncharms. x


Darkening Sky

thesuncharms




Thursday, April 2, 2026

Our Parents Are Marxists - Demo 2026 (Disanorak)




alert; a new project from Heaven Punks boss! Punk as u wish!

Entah berapa banyak musik yang sudah Tiok buat, saya bahkan sampai sulit buat mengingat semua projek musik yang ia lakukan. Beberapa waktu lalu ia sempat menulis cuitan bahwa ia akan memulai sebuah band baru, saya berpikir mungkin akan sama seperti band-band dia sebelumnya. Maklum, karena memang seperti itulah fan; selalu penuh dengan spekulasi bodoh yang berakhir pada kesalahan besar. 


Buat saya OPAM terdengar fresh secara musik, berbeda dari semua band Tiok sebelumnya. Keluar dari tipikal jangly sound The Senstive yang melekat dengan nya, meski siapapun akan mengerti ketika mencerna lirik yang ia tulis di 2 lagu Demo OPAM ini. Karena bagi saya, ia satu-satu nya yang mampu menulis lirik dengan muatan politikal paling paripurna di scene indiepop lokal, dan kalau kamu tidak percaya dengan apa yang saya sebutkan; silakan kamu bisa gali semua diskografi The Sensitive untuk mulai percaya. 


Kalau kamu merasa sedih karena Tiok akan menyudahi The Sensitive di tahun ini, saya mengerti. Namun saya tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan. Karena bagi saya sebuah band memang hadir hanya untuk diselesaikan, entah dengan cara yang berkesan ataupun tidak. Saya gak perlu meratapi kesedihan atas selesainya band yang akan selalu ada di hati saya selamanya; The Sensitive. Karena, OPAM datang sebagai cerminan akan kemuakan saya terhadap Bos saya yang brengsek di tempat kerja. 



Thursday, February 12, 2026

Big Joke!

courtesy by Popcore fanzine


Saya selalu muak ketika media musik karbitan membahas tweepop, indiepop, dan apapun yang berkaitan dengan itu. Belakangan pembahasan itu selalu muncul di timeline sosial media saya. Saya tahu betul, semua tulisan yang mereka buat semata-mata hanya untuk kepentingan income media tersebut dan agar terlihat relevan. Satu yang pasti, mereka gak akan pernah punya antusiasme yang sama dengan kamu, percayalah. 

Lagi pula, kamu tidak sebodoh itu untuk mulai mencoba mendengarkan The Pastels sebagai band tweepop. Karena sampai mati pun, saya takkan pernah membiarkan moron-moron kapitalis berkedok media musik melabeli mereka sebagai sebuah band twee!!! never.

Dan seharusnya kamu sadar, berhenti membaca pembodohan dari mereka adalah hal yang paling benar untuk kamu lakukan. Kecuali kamu memang terlalu clueless untuk mengikuti semua instruksi dan rekomendasi dari mereka soal rilisan indiepop yang layak kamu dengarkan.



Monday, January 26, 2026

The Wellington - Fading Out EP, Guerilla Records 2026 (Review)

 













Butuh waktu agak lama untuk saya benar-benar merasa klik dengan The Wellington. Sejak pertama kali saya mendengarkan split single mereka "Maydear/Someone Knock On My Door" dengan Sharesprings yang luar biasa bagus nya di rilis Heyho records (long time ago) jujur saya tak pernah menaruh atensi lebih terhadap mereka. Mungkin itu adalah salah satu hal paling bodoh yang pernah saya lakukan, saya menyesali nya sampai sekarang dan berhutang maaf pada mereka. Namun beberapa tahun kebelakang saya mulai tersadar dan mendengarkan "Unlover" secara utuh dan mendalam. Sejak saat itu saya enggan menoleh balik, saya mulai rutin mengikuti perkembangan mereka dan mendengarkan semua materi mereka yang belum pernah saya dengarkan sebelumnya. Agak telat memang karena The Wellington adalah salah satu band yang sudah lama malang melintang di scene lokal dan saya baru mulai menaruh perhatian lebih pada mereka beberapa tahun terakhir; shame me!. Tapi saya merasa senang, pada akhirnya saya menemukan perasaan dan antusiasme yang membuat saya sadar akan alasan kenapa saya mencintai semua hal ini sampai sekarang dan selamanya.


"Fading Out" seperti menampar saya dan semua kebodohan yang saya lakukan di masa lalu karena tidak terlalu peduli pada musik mereka. 4 track pada EP ini benar-benar mebuat saya mengerenyitkan dahi dan bergumam dalam hati menyesali semua perbuatan saya tersebut. Dengan menempatkan "Damai" sebagai nomor pembuka seharusnya sudah cukup menyadarkan siapapun yang mendengarkan EP ini mengerti, bahwa menulis lirik dalam Bahasa itu cukup sulit, apalagi untuk di eksekusi sebaik yang The Wellington lakukan di nomor ini. Mereka sukses membuat saya merasa "Damai" di tengah semua kebanalan realita hidup akhir-akhir ini. 

"Endless Time" cukup sentimentil, dengan balutan aransemen musik jangly, membuat siapapun yang mendengarnya sadar bahwa memang ada beberapa hal yang layak untuk selalu kamu syukuri apapun keadaan nya sebelum terlambat dan kita semua kehabisan waktu. "Fading Out" mungkin menjadi track favorit saya di EP ini, semua aspek pada lagu ini benar-benar sempurna, dengan latar vokal yang perempuan yang membuat nya semakin paripurna sebagai sebuah lagu. "Painted Room" buat saya adalah lagu paling personal di EP ini secara lirik, entah di tulis setelah atau sebelum kepergian bassist mereka Kocu tapi satu hal yang pasti lagu ini cukup jelas menggambarkan bahwa kehilangan memang terasa menyakitkan dan kita semua hanya selalu berharap pasca kehilangan kenangan nya akan selalu ada di dalam hidup kita sampai kapan pun.


Secara keseluruhan album ini sangat layak mendapatkan perhatian lebih dari kamu, teman kamu, dan orang banyak. Selamat The Wellington atas di rilis EP terbarunya, saya mulai optimis bahwa tahun 2026 memang tahun yang menyenangkan untuk di lalui karena banyak rilisan band-band lokal yang bagus nya luar biasa. Meski kita semua sadar bahwa realitas nya 2026 adalah tahun penuh carut marut dan terbrengsek yang pernah ada. Tapi, hal seperti ini lah yang membuat kita semua merasa lebih hidup? Di samping semua hal-hal buruk akan selalu ada hal baik yang datang bersamaan, dan "Fading Out" adalah salah satu dari banyak hal tersebut.


RIP KOCU, thank you for the music! 💙



listen here: The Wellington - Fading Out EP





Monday, January 12, 2026

DIfferent Drum: #2 Interview with (Texas Two)

 


Pasca debut gig di Presente 3, serta dirilis nya debut album penuh mereka “Chronovisor” via Untune Records, Texas Two adalah buah bibir setidaknya di ruang lingkup kecil bagi mereka yang memang into sama musik seperti yang di mainkan Texas Two; shortcut noisepop, tanpa tendensi gain popularitas and being asshole.


kali ini saya berkesempatan mewawancarai Arga dan menanyakan beberapa hal yang gak terlalu penting, karena gak ada salah nya juga. Kamu bebas melakukan apapun, kamu bisa jadi apapun, make your own journalism, make your own fanzine, blog, or whatever. do it with your friends! 


enjoy the interview!


Halo, apa kabar Arga? Bogor hujan terus ya pasti? hahaha.


Kabar baik alhamdulillah. Haha iyaa ni harus pake jaket tiap mau keluar, dingin soalnya haha.




Anyway, selamat atas di rilisnya album debut Texas Two “Chronovisor”. Ceritakan dong gimana proses pembuatan album tersebut sampai akhirnya bisa di rilis via Untune Records?


Wah makasih sebelum nya. Prosesnya masih sama kaya yang Unexpressed Feelings EP, masih dikamar yang sama masih pake alat yang sama. Mungkin yang berbeda kali ini vokalnya diisi sama temen di bogor Elvina karna Anya sibuk kuliah dan kerjaan, jadi Anya cuman isi 2 track aja. Dan aku coba cover satu lagu Sex Sux - Ceilings, makasih mas Deni dan kak Melly udah ngijinin Texas Two buat cover hehe. Oh iya, sama ada track yang vokal nya diisi oleh Rega (Aggi) yang masih sama metode rekam nya melalui voice note handphone haha dan katanya dia rekamnya di kamar mandi biar ga bocor suara dari luar hahaha. Tapi makasih banyak Rega udah mau bantu isi vokal!

Sehabis materi pada beres, aku langsung lempar ke mas Untung selaku CEO Untune Records hahaha, dan bilang pengen rilis di tanggal 24 Desember.


Apa pemicu kamu untuk memulai proyekan Texas Two ini? sementara yang saya tau kamu sudah memiliki sebuah group indierock yang juga lagi di “Happening” di scene hari ini, Telly Blue.


Pemicu awalnya iseng aja bikin bikin lirik yang mostly kayanya ga bakal cocok di pake di Telly Blue jadi coba iseng record sendiri dikamar dan kebetulan waktu itu lagi suka suka nya Indiepop dan ya, jadi kaya sekarang deh hehe



Apakah Texas Two hanya menjadi pelarian kamu dari rutinitas bersama Telly Blue? 


Mungkin ya, selagi gaada rutinitas di Telly Blue aku larinya ke Texas Two haha.



Kenapa memilih memainkan musik indiepop (or whatever yang orang sebut)? Kenapa gak milih musik Jazz? padahal bisa bikin kamu lebih cepat kaya raya hahaha.


Kenapa ya? hahahaha mungkin udah kelewat suka indiepop kali ya, kalo main musik Jazz juga saya gak jago-jago banget main instrumen musik, dan mungkin ada sense of belonging aja kayanya makanya mainin jenis musik kaya gini.


Saya ingat kita pernah ngobrol panjang lebar, kemudian kamu meminta saya untuk memberikan referensi band-band yang memainkan jenis musik yang serupa dengan Texas Two. Jujur saya cukup kaget, kamu bisa mengimplementasikan nya pada Chronovisor. Menurut saya kamu cukup sukses mengambil inspirasi dari band-band seperti The Vaselines, Rosehips, Shop Assistants, bahkan Sex Sux dan menjadikan output nya seperti Chronovisor. bisa jelasin gimana proses kamu menulis semua musik di album tersebut?


Hahaha, makasih mas! ya waktu itu aku sempet minta referensi band band yang mirip Texas Two sambil ngejar kereta terakhir ke Bogor sehabis nonton “Tribute To The Cat’s Miaow” di Psychocandy dan akhirnya kita ngobrol banyak di kereta sebelum terpisah di stasiun Depok hahaha. Penulisan nya kebanyakan dapet ide waktu dijalan naik motor, maksain berenti kepinggir buat rekam nada dan lirik yang masih ngasal di voice note, sampe rumah pulang kerja tanpa ganti pakaian langsung aku record semua nya hahaha.


Bogor terkenal sebagai kota indierock, beberapa media menyebutnya seperti itu. apakah kamu setuju dengan semua labeling tersebut? 


Sebenernya banyak genre selain Indierock di Bogor. Masalah setuju atau tidak setuju Bogor di labeli “Kota Indierock” yaa aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.


Hahaha, emang media musik kadang suka berlebihan sih. Belum lama kamu melakukan debut show dan main sama Aggi serta The Silent Love, gimana perasaan kamu? saya bisa bilang debut show Texas Two cukup memuaskan setidaknya untuk saya.


Nervous banget hahaha mungkin yang nonton pada saat itu juga bisa ngeliat bertapa neveous nya kami saat itu, untungnya orang orang yang nonton pada asik jadi kami kebawa enjoy juga hahaha. Btw thanks mas Tiok dan Disanorak yang sudah ngajak kami main buat yang pertama kali nya!


Gimana kamu melihat scene lokal indiepop hari ini? 


Cukup seru, banyak band-band baru yang bagus, terus bisa ketemu orang orang baru yang menyenangkan dan berbagi value spirit yang sama. 



Saya dengar juga sudah ada beberapa label dari luar Indonesia yang menawarkan diri untuk merilis album Chronovisor? apakah benar?


Yupp, ada Galaxy Train dari Jepang yang bakal ngerilisin kaset di bulan Februari nanti. Dan ada indiepop fans dari NY yang nawarin buat ngebikinin CD yang nanti nya akan dia titipkan di beberapa record store lokal disana, mungkin di bulan Februari juga, semoga.



Sex Sux bagi saya punya peran penting di scene lokal, kamu juga pasti setuju akan hal itu. seberapa penting nya keberadaan mereka buat kamu? saya tahu ini pertanyaan klise, karena mereka sudah lama tidak aktif.


Yup setuju, entah kenapa pas pertama kali denger Sex Sux langsung suka dan karna Sex Sux juga jadi pengen bikin band indiepop kaya mereka. Sex Sux forever! Hahahaha


Siapa current band yang bisa kamu rekomendasikan buat orang-orang yang membaca Interview ini? meski saya yakin, gak ada yang mau baca atau peduli sama interview dan rekomendasi ini hahaha.


hahahahahaha ngehe. mungkin Buba and The Shop Assistants - Something To Do sama Henry's Dress - Definitely Nothing 


Hahaha ngawur! itu sih sudah pada meninggal semua band nya, tapi gapapa saya tau kamu tergila-gila sama mereka. setelah rilis album debut Texas Two, apa rencana kamu selanjutnya bersama Texas Two? 


Paling bakal ngeberesin materi buat beberapa kompilasi atau manggung lagi mungkin. oh ya, gig terdekat Texas Two tanggal 17 Januari di Psychocandy acara release party nya Candy Kisses. come and hangout! ada band lain yang keren-keren juga bakal main.


Thanks Arga sudah mau buang-buang waktu untuk di interview, hahaha. All the best buat Telly Blue dan Texas Two nya. Dan karena sudah mulai masuk musim hujan, semoga sehat terus buat ya. amin!


Thanks juga mas sudah menginterview saya hahaha, sehat-sehat buat kita semua. amin!


please give a support for them, they are so great. buy their records digitally from; https://untunerecs.bandcamp.com/album/chronovisor or you can buy a physical release of Chronovisor via Untune Records.





Saturday, January 3, 2026

Different Drum: #1 Interview with (The Interpretation Cultures)

 














Ini adalah sesi interview pertama yang saya lakukan untuk blog ini. Kali ini saya melakukan interview bersama The Interpretation Cultures, salah satu local act yang cukup menyita perhatian saya pasca kemunculan mereka. Harapan nya series interview ini akan terus berlanjut seterusnya, itupun kalau saya tidak terlalu malas untuk melakukan nya, semoga. Interview ini juga semata-mata sebagai ikhwal saya untuk terus menjalin hubungan serta komunikasi dengan beberapa band, label, maupun scenester di scene lokal. Jadi gak menutup kemungkinan, band kamu, label kamu, atau kamu sendiri bisa juga saya minta untuk melakukan interview. 


So, enjoy the interview........ 


Anyway selamat atas perilisan album debut kalian yang luar biasa bagus nya. Bisa di ceritakan gimana awal mula kalian memutuskan untuk memulai The Interpretation? 


Thanks a lot atas apresiasi.

Sebenarnya kami lupa tanggal dan bulan kami terbentuk, kita dikumpulkan di sekolah sma di tahun 2012. kami sering nongkrong, bolos pelajaran sekolah untuk bisa ke studio dan jamming menyanyikan lagu yang kami suka. singkat cerita kami sibuk dengan urusan masing2 dan terkumpul kembali di studio tahun 2023. kami sempat merekam materi kami seadanya dirumah masing2 di tahun 2020. judulnya Biru. materi kami waktu sma.


Koreksi kalau saya salah, sepengetahuan saya ini adalah band one man project? apa benar? atau memang dari awal sudah di bentuk as a group? saya cukup penasaran soal ini, sungguh. haha


kami terbentuk as a group. saya sendiri (Fadhli) hobi dan senang dengan musik dan sub-kulturnya, mulanya saya iseng mengcover lagu dari Anselmus (My Life is Better with indiepop) menurut saya liriknya mewakili anak indies all around the world hehe-^, sound yang catchy dan simple. saya dikontak mas eko (shiny happy records/chaoticpop records) waktu itu, dia nawarin "mau ngga dirilisin di label saya?" chaoticpop records waktu itu. Nah... saya kontaklah gitaris saya (Anaang) "nang, buat pattern gitar yang singkat dan padat dong". saya pun terlintas untuk membuat lirik yang singkat dan jujur. waktu itu sepulang kerja terputar di radio lagu archie, marry me by Alvvays. dan teringat "lucu jg kalau judul lagunya nama orang" saya pun teringat kalau nama voc alvvays itu Molly, jadilah Molly pop song yang dirilis chaotic waktu itu mengikuti 2 cover dari saya (fadhli) yang direkam melalui irig di hp.


Satu hal yang cukup membuat saya terkejut, fakta bahwa ada band dan kolektif seperti yang kalian jalankan di Makassar sungguh membuat saya senang bukan kepalang. bagaimana itu semua dimulai? 


kolektif yang kami buat itu berawal dari teman ke teman, punya teman mempunyai bakat keren, kami pun support. kami terinspirasi dari kultur dan movement DIY indie/garage 60an-90an, layaknya Amelia Fletcher, Calvin Johnson, dan Stephin Merrit. (long life to them)


Seperti apa kalian menggambarkan keadaan scene di kota kalian hari ini? terutama di ruang lingkup yang kalian sendiri berada dan terlibat di dalam nya?


Menurut kami scene di kota makassar itu monoton. kami besar dengan kultur hardcore/punk dengan budaya kami (Siri' na Pacce) harga diri dan empati sudah mengalir dalam keseharian. tetapi kami bosan dengan punk yg monoton, bukanya punk itu ideologi yg menyaratakan semua golongan?
ada 1 orang yang kami percaya yang memegang prinsip DIY yang sebenarnya, Fami Redwan (The Hotdogs). menurut kami dia sosok yang jujur dalam prinsip DIY ini. dia berkembang dengan musiknya, dan jujur dalam berkarya.


There's a Light that I Will Never Have, apakah judul album ini terinspirasi dari There's is A Light That Never Goes Out milik The Smiths? Saya cuma sekedar asal bicara aja sih, tapi mungkin ada benar nya? 


Ya kami sarkas dengan gen tiktok yang memakai sound the smiths, kami tau kalau itu salah satu soundtrack dari film 500 days... tapi kenapa harus the smiths? banyak ost di film itu yang keren, haha.



Berapa lama proses merekam semua materi lagu di album ini? 14 track itu cukup banyak sih untuk sebuah album. bagaimana proses song writing nya? apakah masih menggunakan metode klasik seperti jamming? atau di rekam perbagian lalu kemudian di satukan sebagai sebuah lagu?


Kami merekamnya dari bulan february 2025, awalnya saya (fadhli) punya banyak draft record humming sambil gitar di hp, dan coba untuk mendengarkan ke teman TIC yang lain, kami jamming mencari pattern yang cocok, dan direkam melalui hp. lalu saya (fadhli) sendiri yang merekam trackingnya satu persatu.



Intro di album ini mengingatkan saya dengan beberapa materi pada musik Ride, menurut saya pilihan yang sangat tepat menaruh lagu "Even We Tried but Couldn't" di track pertama, itu works banget. apakah Ride cukup punya pengaruh terhadap arah referensi musik kalian? 


Track 1 itu merupakan gabungan dari British invasion sounds yang kami suka. menurut kami kita harus buat sound yang angsty dan kool. kami semua membayangkan kalau di lagu ini Tim Burgess yang memainkan tamborine, pattern gitar Johnny marr dan John Squire, bassline Andy Bell, dan keys dari Rob Collins (Charlatans). 



That's could be dangerous band, really! hahaha. Saya juga mengikuti kalian, dan menyadari bahwa kalian adalah salah satu band yang rajin merilis sesuatu, baik itu single, EP, atau ikut serta dalam kompilasi yang di rilis label lain atau kalian rilis sendiri. Apa pendapat kalian terhadap beberapa band yang membuat sebuah materi album, namun tak punya keberanian untuk merilis nya secara mandiri? bahkan ada yang berharap agar bisa dirilis di label-label fancy yang mengaku indie, padahal ga sama sekali.


Menurut kami buat apa menunggu? dengan harapan panggung besar, menjadi popstar? menurut kami sangat bodoh, kamu berhak dengan karyamu! entah kamu mau rilis di hari jumat, mengikuti waktu yang dibuat oleh media atau record label itu semua omong kosong. rilis lah sesuka hatimu, didengar atau tidak terdengar itu urusan lain. 


Kayanya saya udah terlalu banyak bertanya, Haris Franky bukan sok banyak tanya ya hahaha. Apa rencana pendek kalian ke depan, setelah perilisan album ini? 


Rencana pendek, palingan buat rilisan CD-r dan Cassette. kebetulan kami di kontak dengan mas Untung (Untune Recs) untuk collab rilisan cassette, beberapa tracknya dipilih langsung sama Mas Untung sendiri.


Mantap! semoga semua lancar. pertanyaan penutup, bisa rekomendasikan ke kami 5 band baik lokal atau luar yang patut orang lain dengarkan? kalo 5 terlalu banyak, 3 juga boleh, bebas saja sih ini. hahaha


Lokal : - The Hotdogs (Makassar)
                 - Taman Impian (Makassar)
                 - permen karet (Makassar)
Luar : Menurut kami kalau luar lebih ke kompilasi sih, karna kita besar dengan kompilasi yang ajaib.
 - The Subway Organization Compilation
- The Kids at the club; an indiepop compilation
- All Sarah records compilation.


This quite fun interview. Terima kasih udah luangin waktu dan mau melakukan interview ini. all the best 


Thanks, with love 🍒
The Interpretation Cultures!













Friday, January 2, 2026

indiepop still alives, and will always! Album Reviews (2026)

2026 baru berjalan 2 hari, tapi sudah ada 4 kandidat best indiepop record of the year dalam kepala saya. Agak terburu-buru? mungkin saja. Tapi buat mereka yang dig it "what true meaning pop is" pasti akan setuju sama ucapan saya tadi. Saya gak akan pernah membiarkan pendapat saya yang akan selalu subjektif terhadap apa yang saya cintai, tak pernah tersampaikan. Sekalipun tanpa pembaca satupun, saya akan tetap menulis opini saya terlebih terhadap sesuatu yang saya sebut antusiasme. Kamu gak akan pernah mampu membayar semua antusiasme dalam hal apapun dengan materi, disini dalam konteks indiepop. 


1.  The Interpretation Cultures  - There's a Light that I Will Never Have 


 

Debut LP dari Makassar pop darlings, 14 track indiepop straight to yer heart yang di rekam dan di tulis dengan baik. Saya cukup terkejut dengan apa yang mereka lakukan di kota asal mereka, sesuatu yang cukup membuat saya mengerenyitkan dahi karena kepalang senang bukan main ada band serta kolektif seperti yang The Interpretation Cult lakukan di Makassar. Band ini cukup rajin merilis sesuatu mulai dari Single, EP, sampai Kompilasi pun semua dilibas. Hal yang sudah seharusnya banyak band lakukan hari ini tanpa perlu menunggu record label datang untuk menjilat karya kalian bak lintah. 

2. The Fabulous Friend - A Little Spring of Gentle Pop





















Dari awal saya mengenal Eko, saya adalah salah satu penggemar militan label besutan nya yang satu ini. Eko selalu menemukan gems di setiap rilisan yang ia rilis bersama Shiny Happy. A Little Spring of Gentle Spring adalah bukti bagaimana ia mengkurasi label nya dengan sangat amat baik, selalu mengutamakan pilihan dari hati nya dalam merilis sebuah band. Eko paham betul dengan apa yang ia gagas dan jalani, The Fabulous Friend sudah jelas jadi best pop act in 2026 buat saya. Kalau kamu akrab sama rilisan-rilisan Labrador, saya pastikan kamu menemukan cara membayangkan berjalan-jalan menuju pengalaman pop heaven dengan bahagia.





3. Strawberry Punks Vol. 6 - Disanorak Compilation























Seri kompilasi paling progressif yang pernah hadir dari scene indiepop lokal kembali menjalankan tradisi tahunan nya. Disanorak merilis Strawberry Punks Vol. 6, di tahun 2026. 
Kamu harus nya sadar, tanpa kompilasi ini mungkin kamu gak harus heran kenapa Grrrl Gang bisa make it big hari ini. Saya menemukan band-band yang sebelum nya gak saya discover lewat kompilasi ini. Seperti band bernama Egofatum yang muncul di Vol. 3 dan Vol. 5 yang langsung bikin saya jatuh hati, apalagi setelah tau bahwa seorang Punks bisa menulis musik pop sesuai dengan konotasi yang baik. Kalo kamu sudah mendengar Vol. 6, arti nya kamu paham bahwa Tiok akan selalu menjaga hal-hal seperti itu di setiap volume kompilasi ini, mungkin sampai volume 100 Strawberry Punks. semoga! Disanorak forever.





4. Candy Kisses - Truth We Avoided
























Alip pernah ngobrol sama saya via DM, suatu hari. Katanya ada dua band baru yang muncul dari kolektif Forfun yang ia jalani bersama teman-teman nya di Depok. satu noisepop dan satu lagi kata nya pure twee, ia menggaransi bahwa saya akan suka katanya. Saya hanya menebak-nebak, mungkin Candy Kisses adalah salah satu dari dua band yang ia maksud. 

Kalau memang benar, berarti Alip tak membual perihal garansi yang ia berikan pada saya tempo hari. Truth We Avoided is the perfect pop, reminds me of Go Sailor. love you Alip dkk.


4 rilisan yang bagus nya minta ampun, dalam 1 hari agak berlebihan sebetulnya. Tapi buat maniak pop jelas salah satu hari paling menyenangkan. Satu hal yang pasti, 2026 masih panjang. Saya yakin akan ada banyak rilisan pop dari scene lokal yang sama bagus nya bahkan lebih bagus, we'll see....

Happy New Year!!!! Up the punks.....